Perjalanan Mendaki di Gunung Batur Bali
Mendaki Gunung
Batur, Pemandangannya Bikin Nangis
Feb 2, 2022
“The best view comes after the
hardest climb”. Begitu kata petikan terkenal yang sering kita dengar. Susahnya
pendakian yang kita jalani sepadan dengan pemandangan yang bakal kita lihat.
Teman-teman pasti sudah sering mendengarnya. Petikan itu saya aminkan kala
mendaki Gunung Batur beberapa waktu lalu.
Coba lihat bahagianya
pasangan ini saya foto eh melihat
pemandangan matahari terbit yang cantik begini!
Sebenarnya rencana mendaki Gunung Batur kemarin dadakan. Velyz sudah pernah naik beberapa tahun yang lalu, sementara Fahmi Catperku lagi kangen-kangennya keliling Bali. Mumpung lagi pada di Bali semua mengerjakan beberapa proyek. Jadi, sehabis beristirahat dan staycation di Hotel Vila Lumbung, malamnya kami berangkat ke Kintamani untuk mendaki Gunung Batur.
Mendengar rencana mendaki Gunung Batur bukannya tanpa beban bagi saya. Saya langsung kebayang bagaimana susahnya naik. Tinggi Gunung Batur yang ‘hanya’ 1.717mdpl memang tak setinggi Gunung Semeru yang pernah saya daki beberapa tahun silam. Namun karena pola hidup saya yang kurang sehat akhir-akhir ini bikin saya galau setengah mati. Kerja-kerja-kerja, kurang tidur, dan saking jarangnya olahraga nafas pun jadi pendek-pendek.
Drama terus berlanjut. Layaknya ABG yang lagi galau gebetan belum membalas SMS-nya, saya putuskan ga ikut. Kala itu kami masih di Hotel Vila Lumbung. Ga ada dorongan apa-apa dari kedua partner saya ini. Bok ya disemangatin gitu ya. Ga ada hahaha. Diatas motor dengan kecepatan tinggi dalam perjalanan pulang ke Ubud saya mikir lagi, “Kapan lagi kan, mumpung (ada) bareng teman”. Saya pun putar balik. Saya putuskan untuk ikut. Dasar om-om labil hahaha.
Mendaki Gunung Batur
Tengah malam, persis pukul 12, kami sudah meluncur menuju Kintamani dengan dua sepeda motor. Iya, udara mulai dingin dan tambah dingin lagi saat melewati Tampak Siring. Hampir dua jam perjalanan kami belum berhenti selain saat fahmi memasang tambahan jaket sementara saya memutar tas ransel saya ke depan supaya tak terlalu dingin.
Setengah tiga pagi kami sudah tiba di area parkir. Akhirnya bisa meregangkan otot pinggang sehabis motoran selama 2.5 jam. Sepertinya baru kami pendaki yang datang. Belum terlihat para pendaki lain. Kami beristirahat disebuah warung yang masih buka diseberang parkiran sambil menunggu pendaki lain. Rencananya kami mengekor dibelakang mereka.
Sebenarnya trek pendakian Gunung Batur ini ga susah-susah amat. Meski begitu buat saya ini termasuk sulit apalagi dengan pola hidup yang kurang sehat selama ini. Pura sebagai awal pendakian ke puncak belum terlihat saja saya sudah ngos-ngosan, Berkali-kali berhenti untuk istirata dan mengatur langkah lagi.
Setiba di pura kepala sudah pusing, saya butuh beristirahat lebih lama hingga hampir menyerah. Saya bilang ke teman-teman untuk meninggalkan saya, “Kalian naiklah, aku nunggu disini”. Saya galau lagi sambil melihat kedua teman saya hilang perlahan digelapnya pagi.
Mendaki Gunung Batur
Tengah malam, persis pukul 12, kami sudah meluncur menuju Kintamani dengan dua sepeda motor. Iya, udara mulai dingin dan tambah dingin lagi saat melewati Tampak Siring. Hampir dua jam perjalanan kami belum berhenti selain saat fahmi memasang tambahan jaket sementara saya memutar tas ransel saya ke depan supaya tak terlalu dingin.
Setengah tiga pagi kami sudah tiba di area parkir. Akhirnya bisa meregangkan otot pinggang sehabis motoran selama 2.5 jam. Sepertinya baru kami pendaki yang datang. Belum terlihat para pendaki lain. Kami beristirahat disebuah warung yang masih buka diseberang parkiran sambil menunggu pendaki lain. Rencananya kami mengekor dibelakang mereka.
Sebenarnya trek pendakian Gunung Batur ini ga susah-susah amat. Meski begitu buat saya ini termasuk sulit apalagi dengan pola hidup yang kurang sehat selama ini. Pura sebagai awal pendakian ke puncak belum terlihat saja saya sudah ngos-ngosan, Berkali-kali berhenti untuk istirata dan mengatur langkah lagi.
Setiba di pura kepala sudah pusing, saya butuh beristirahat lebih lama hingga hampir menyerah. Saya bilang ke teman-teman untuk meninggalkan saya, “Kalian naiklah, aku nunggu disini”. Saya galau lagi sambil melihat kedua teman saya hilang perlahan digelapnya pagi.
30 menit berikutnya, saya putuskan untuk naik hahaha. Galau banget emang. Kapan lagi, bukan? Udah keburu sampai disini, sayang kalau ga dilanjutkan. Akhirnya saya naik pelan-pelan, sendirian tanpa ada kedua teman mengapit saya. Waktu itu saya ditemani seekor anjing Kintamani yang saya kenali karena saya sempat membagi roti saat beristirahat di warung tadi. Sebentar-sebentar berhenti. Si anjing juga ikutan berhenti. Entah sudah berapa banyak rombongan yang melewati saya.
foto hendak matahari terbit di puncakPemandangan Sunrise di Gunung Batur
Menjelang matahari terbit, rombongan pendaki semakin banyak berkumpul di pos ini. Sebagian sudah duduk manis dipinggir tebing mengambil spotnya masing-masing sambil beristirahat.
Hari sudah menjelang siang, suasana post di puncak sudah semakin sepi. Panas matahari pun sudah mulai menyengat. Turun pun bukan perkara mudah. Perlahan kami turun meninggalkan post. Begitu melewati pura, jalan yang kami lalui adalah jalan beraspal yang lebih mudah. Biasanya jalur ini akan dilewati sehabis turun dari puncak. Sambil turun, kita masih bisa menikmati pemandangan lain seperti melihat aktivitas masyarakat setempat yang berladang.
Kamu punya pengalaman seru waktu mendaki Gunung Batur? Atau cuma nongkrong cantik di Penelokan Kintamani? Yuk, kasih komen dibawah ya!
https://www.manusialembah.com/2022/04/pendakian-gunung-batur.html

Baguss,😁😁
BalasHapusWihhhh👍👍
BalasHapusGreat post! Nice Info
BalasHapusSetiap perjalanan dan suasana diceritain sedetail mungkin jadi bikin kita ngerasa berada ditempatnya langsung, selain itu bahasa yg digunakan juga ga terlalu kaku jadi gampang bgt dimengerti.
Bgussss bngett lohhhh
BalasHapusSippp
BalasHapus